Jumat, 18 November 2011

MANUSIA PALING MULIA DIMATA ALLAH SWT


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh… 


Sahabat, tentunya sahabat tau setiap manusia Allah berikan kelebihan dan kekurangan, tidak ada manusia yang seutuhnya sempurna. Dari situ jugalah kita bisa mengacu bahwa semua kelebihan dan kekurangan yang ada pada diri manusia merupakan kuasa dan kehendak Allah Swt. Kelebihan dan kekurangan yang Allah titipkan kepada kita itu dapat berupa fisik, materi, Ilmu, kedudukan, jabatan, keturunan dan lain-lain. Allah Swt. sendiri telah menyebutkan bahwa manusia diciptakan beragam, hal ini dengan tujuan agar dapat saling mengenal. Allah berfirman : ”Hai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki (Adam AS) dan seorang perempuan (Siti Hawa), kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (Al Hujuraat, 13). Kelebihan dan kekurangan yang ada pada diri kita merupakan nikmat. Dan nikmat-nikmat itu sendiri bisa menjadi ujian dan cobaan bagi yang memilikinya. Dalam konteks ujian, kelebihan yang kita miliki dapat berubah menjadi positif atau negatif. Jika kelebihan yang kita miliki menjadikan kita sombong, angkuh, meremehkan orang lain, menzhalimi orang lain, maka justru kelebihan itu akan membinasakan diri kita sendiri. 


Lain halnya jika kelebihan yang kita miliki dapat membuat kita menjadi lebih bersyukur, lebih taat kepada Allah serta memanfaatkannya secara luas untuk kebaikan diri sendiri dan orang lain, maka kelebihan tersebut bersifat positif karena kita mampu mengelolanya dengan baik.
Ayat diatas diperkuat lagi oleh Hadist : Ada orang yang bertanya "Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling mulia?" Rasulullah bersabda "Orang yang paling bertaqwa Mereka berkata "Bukan tentang hal itu yang kami tanyakan" Beliau Bersabda "Yaitu Yusuf anak Nabi Allah, Anak Nabi Allah, Anak Khalil Allah mereka bertanya "bukan itu yang kami tanyakan" Beliau bersabda "Apakah tentang Tokoh Tokoh bangsa Arab yang kalian tanyakan? "kemudian Beliau bersabda "Khiyaa ruhum fil Jaahiliyyati khiyaaruhum fil Islami idzaa faqihuu" artinya : Orang yang paling baik dari mereka pada masa jahiliah adalah orang yang paling baik dalam Islam jika mereka menguasai agama" Hadist Lain lagi : Ada dua orang bersaudara pada Masa Rasulullah Shallallahu"alaihi Wa sallam, salah seorang dari keduanya belajar agama dengan mendatangi majlis Nabi Shallallahu "alaihi Wa sallam, sementara yang satunya lagi pergi menjalankan usaha. Kemudian orang yg berbisnis itu mengeluhkan tentang saudaranya kepada Rasulullah, mendengar itu Rasulullah bersabda La'allaka turzaqu bihi artinya Barangkali, engkau di berikan Rizki karena berkah saudaramu (yang belajar) itu.."

Sahabat.. Setiap kelebihan atau keutamaan yang telah Allah berikan kepada kita seyogyanya kita sadari bahwa itu merupakan anugerah, bukan untuk disombong-sombongkan hingga sampai meremehkan orang lain. 
Bahkan ketika kita merasa lebih utama/mulia karena sudah menjadi seseorang yang rajin melakukan amal ibadah, itu sendiri pun sebenarnya tidak akan banyak berarti karena kita tidak pernah tahu apakah Allah sudah menerima atau belum amal ibadah kita tersebut. Orang yang suka menonjolkan kelebihan dari segi keturunan, padahal yang lebih bijak adalah bukan mereka yang membangga-banggakan keturunan/leluhurnya, tetapi mereka yang dapat dibanggakan oleh keturunan/leluhurnya. Apalah artinya keturunan yang bagus/mulia sedang kita sendiri hanya bisa membangga-banggakan tanpa pernah bermaksud mencontoh/meneladani leluhur kita yang mulia itu.

Sedikit Ilustrasi : Ada seorang guru mengajari muridnya yang bener2 taat pada gurunya.., sampai gurunya menyuruh membaca ini dan itu, menghafal ini dan itu berdzikir ini dan itu, semuaaa.. di taati oleh muridnya yang taat itu, suatu saat Sang murid mengamalkan suatu amalan yang bisa bikin dia berjalan diatas air..., semua petunjuk gurunya di pratekkan oleh murid, diamalkan oleh murid yang taat,.. satu hari Sang Guru berpergian bersama murid yang taat, ingin ber dakwah ke desa seberang yang harus melewati sungai yang sangat besar, lalu sampailah mereka ketepi sungai, lantas sang Guru bertanya kepada muridnya yang taat ini,bagaimana kita mesti menyebrang? mana jembatannya?? lalu murid yang taat itu menjawab.., oh kita tidak perlu jembatan.., Kan Ustad mengajarkan amal yang terus saya jalankan hingga saya bisa berjalan diatas air, lalu si murid mempraktikkan.., dengan tenangnya dia berjalan diatas air seperti berjalan diatas tanah hingga selama sampai seberang, tinggal Sang guru yang bingung.. akhirnya dia putuskan untk ikut menyebrangi sungai menyusul muridnya yang taat, tapi apa yang terjadi? Sang Guru tenggelam, karena dia bisa menyarankan, mengajarkan, tp dia sendiri tidak mengamalkan.. Subhanallah, Jika kita memang ingin meniru Ahlak Rasulullah Shallahu 'alaihi wa sallam, Rasulullah selalu tawadu', rendah hati, tidak ada kesombongan sedikitpun., selalu tersenyum , ramah dengan siapapun.. Manusia sekarang kan beda.., sering mengganggap orang lain rendah, gak level, merasa lebih banyak amalnya, lebih tinggi ilmunya, lebih banyak sedekahnya dll..., Subhanallah. Jadi Sahabat, dimata Allah, bisa jadi pengemis diluar rumah kita itu lebih mulia dari kita, kalau kita atasan boleh jadi bawahan kita lebih mulia dimata Allah, kalau kita majikan, boleh jadi pembantu kita lebih mulia dimata Allah, atau mungkin supir kita, Kalau kita guru, boleh jadi murid2 kita lebih mulia dimata Allah, atau siapa saja yang ada di sekitar kita.

Orang yang ujub -dengan diri dan amalannya- merasa tinggi dan mulia dihadapan yang lain... padahal hakekatnya dialah yang paling rendah dihadapan Allah Semoga Allah swt. menjadikan kita hamba yang menyadari bahwa segala kelebihan yang telah Allah berikan merupakan titipan sekaligus anugerah dan semoga Allah tidak menjadikan kita sombong karenanya. Semoga bermanfaat Love you All Cause of Allah .


Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar